Cerita Kerja : Cara Menghadapi Rekan Kerja Toxic di Kantor

Kadang, yang membuat kamu berat berangkat kerja adalah bayangan harus menghadapi orang yang sama. Orang yang menyindir ketika kamu bertanya, menitipkan pekerjaan saat tugasmu belum selesai, lalu menyebutmu terlalu sensitif ketika kamu mulai keberatan.

Sesampainya di rumah, percakapannya masih berputar di kepala. Kamu memikirkan jawaban yang seharusnya tadi diucapkan. Sementara orang di rumah bertanya kenapa kamu diam, kamu sendiri kesulitan menjelaskan kelelahan yang tidak kelihatan itu.

Kalau situasi ini terasa dekat, kita pelan-pelan mencari langkah yang bisa dicoba. Cara menghadapi rekan kerja toxic dimulai dari mengenali perilakunya, menyampaikan kebutuhan dengan jelas, dan mencari dukungan ketika batasmu terus dilanggar.

Tidak ada kalimat yang bisa menjamin seseorang langsung berubah. Namun, kamu bisa menyiapkan respons agar tidak selalu kehilangan kata-kata, memperjelas pembagian pekerjaan, dan mengetahui kapan persoalan perlu dibawa kepada pihak yang dapat membantu.

1. Kenali Perilakunya agar Kamu Tahu Apa yang Perlu Dibahas

Kata toxic sering dipakai ketika hubungan kerja terasa melelahkan. Supaya persoalannya lebih mudah disampaikan, coba uraikan kejadian yang membuatmu tidak nyaman. Apa yang dikatakan, dalam situasi apa, dan bagaimana pengaruhnya terhadap pekerjaanmu?

Dalam ilustrasi ini, Raka bekerja sebagai staf administrasi. Rekannya meminta angka pada laporan diperiksa ulang. Permintaan itu bisa menjadi masukan yang wajar, terutama jika memang ada data yang belum sesuai.

Situasinya berbeda ketika koreksi disertai ucapan, “Begini saja kamu tidak bisa?” di depan tim. Raka tetap perlu memeriksa laporannya. Ia juga dapat membahas cara penyampaian yang membuatnya direndahkan.

Kamu bisa bertanggung jawab atas kesalahan sekaligus meminta komunikasi yang menghargai. Keduanya dapat dilakukan bersamaan. Mengakui salah tidak berarti semua komentar tentang dirimu harus diterima begitu saja.

Perhatikan konteks dan tindak lanjutnya. Apakah orang tersebut menjelaskan perbaikan yang dibutuhkan? Bagaimana responsnya saat kamu menyampaikan keberatan? Apakah informasi kerja tetap diberikan dengan jelas setelah pembicaraan itu?

Hindari menebak bahwa ia pasti iri atau sengaja ingin menjatuhkanmu. Dugaan seperti itu sulit dibuktikan dan bisa mengalihkan pembicaraan. Pegang kejadian yang dapat dijelaskan, termasuk kejadian serius yang baru berlangsung sekali.

2. Beri Diri Waktu Sebelum Menjawab

Saat dipermalukan mendadak, sebagian orang justru diam. Kalimat baru terpikir setelah rapat selesai atau ketika sudah di perjalanan pulang. Kalau kamu pernah mengalaminya, masih ada kesempatan membahas kejadian itu setelahnya.

Untuk situasi yang memungkinkan, ambil jeda singkat. Baca ulang pesan sebelum membalas. Jika sedang berbicara langsung, kamu dapat meminta penjelasan atau mengatakan bahwa kamu perlu memeriksa pekerjaan terlebih dahulu.

“Aku cek dulu bagian yang kamu maksud supaya jawabanku tepat. Setelah itu, kita bahas perbaikannya.”

Jeda ini memberimu ruang untuk memilih respons. Kamu tidak harus langsung menyetujui permintaan, meminta maaf panjang, atau mengirim pesan saat sedang sangat kesal. Tentukan dulu apa yang sebenarnya perlu diselesaikan.

Raka, misalnya, menulis draf balasan setelah menerima sindiran di grup. Sebelum mengirim, ia menghapus dugaan tentang niat rekannya, lalu menyisakan data yang diminta dan pertanyaan tentang bagian laporan yang perlu diperbaiki.

Kalau sudah terlanjur membalas dengan ketus, kamu masih bisa memperbaiki cara menyampaikan. Katakan bahwa nadamu tadi kurang tepat, kemudian kembali jelaskan persoalannya. Tidak perlu mencabut keberatan yang memang masih relevan.

3. Saat Disindir, Minta Pembicaraan Kembali ke Pekerjaan

Bayangkan kamu sedang menjelaskan laporan, lalu seseorang menyela, “Tumben cepat, biasanya paling terakhir.” Kamu mungkin ingin tertawa agar suasana tetap nyaman, padahal komentar itu terasa menyakitkan.

Pilih respons sesuai situasi dan rasa amanmu. Di tengah rapat, kamu bisa mengembalikan pembicaraan ke hal yang sedang dikerjakan. Tidak semua komentar harus dibahas panjang di depan banyak orang.

“Untuk laporan ini, bagian yang perlu diperbaiki yang mana? Aku ingin kita fokus ke datanya dulu.”

Jika memungkinkan, bahas cara penyampaiannya secara terpisah. Gunakan kejadian yang jelas dan permintaan yang bisa dilakukan. Kalimat “kamu selalu merendahkanku” dapat diganti dengan penjelasan tentang ucapan tertentu dalam rapat tadi.

“Tadi saat kamu bilang aku biasanya paling terakhir di depan tim, aku merasa direndahkan. Kalau ada masalah tenggat, tolong sebutkan tugas dan waktunya supaya bisa kita bahas.”

Kalau jawabannya, “Cuma bercanda, kok”

Kamu tidak perlu berdebat panjang tentang apakah candaan itu seharusnya lucu. Sampaikan batas yang ingin dijaga. Jika dibutuhkan, ulangi permintaan yang sama tanpa menambah sindiran balasan.

“Aku dengar kamu menganggapnya bercanda. Aku tidak nyaman dijadikan bahan candaan seperti itu. Tolong jangan ulangi komentar tentang kemampuanku di depan tim.”

Sesudahnya, perhatikan tindakan nyata. Bila komentarnya berhenti, lanjutkan kerja sama sewajarnya. Bila tetap berulang, catat kejadiannya dan pertimbangkan dukungan atasan atau jalur pengaduan yang tersedia.

Kalau kamu khawatir pembicaraan pribadi akan memicu intimidasi, mintalah pendamping atau bantuan pihak lain. Menyampaikan batas tidak harus dilakukan berdua di ruangan tertutup.

Bila ada teman yang menyaksikan, kamu bisa meminta dukungan sederhana: membantu mengembalikan rapat ke pembahasan tugas. Sepakati dulu bantuan yang kamu inginkan, supaya kamu tetap punya kendali atas cara kejadian itu ditangani.

4. Saat Tugas Terus Dilempar, Perjelas Kapasitas dan Prioritas

Awalnya kamu membantu karena ingin menjadi rekan yang baik. Lama-lama, permintaan datang setiap sore. Pekerjaan orang lain selesai, sementara tugasmu tertunda dan kamu yang harus menjelaskan keterlambatannya.

Sebelum menjawab, pastikan apa yang diminta. Membantu memeriksa format berbeda dengan mengerjakan seluruh laporan. Tanyakan hasil yang dibutuhkan, tenggatnya, dan siapa yang akan menyelesaikan pekerjaan setelah bantuanmu diberikan.

Dalam contoh Raka, ia sedang menyelesaikan rekap untuk pukul 16.00. Pukul 14.30, rekannya meminta seluruh data lain dimasukkan sebelum pukul 15.00. Dua pekerjaan itu tidak bisa langsung ia janjikan selesai bersamaan.

“Aku sedang menyelesaikan rekap untuk pukul 16.00. Aku bisa bantu cek format selama sepuluh menit, tetapi belum bisa mengambil seluruh input datanya. Kalau tugas ini perlu didahulukan, kita konfirmasi prioritasnya ke atasan.”

Tawarkan bantuan terbatas hanya jika waktunya memang tersedia. Kalau kapasitasmu sudah penuh, sampaikan pekerjaan yang sedang berjalan dan minta keputusan prioritas. Kamu tidak perlu menawarkan waktu tambahan yang sebenarnya tidak ada.

Jika permintaan datang dari pihak yang berwenang memberi tugas, jelaskan konsekuensi waktunya dengan sopan. Tanyakan pekerjaan mana yang perlu didahulukan dan tenggat mana yang disesuaikan, lalu rangkum keputusan tersebut.

Sesudah mendapat keputusan, Raka dapat menulis ringkasan di kanal kerja yang biasa digunakan. Ini membantu semua pihak mengingat perubahan yang sama dan mengetahui pekerjaan mana yang masih menunggu.

“Sesuai pembahasan tadi, aku mendahulukan input data sampai pukul 15.00. Rekap dijadwalkan selesai besok pagi sesuai persetujuan. Kalau ada bagian ringkasan yang kurang tepat, mohon dikoreksi.”

Gunakan ringkasan itu hanya bila perubahan tenggat memang sudah disetujui. Kalau belum ada keputusan, tuliskan bahwa kamu masih menunggu arahan. Jangan membuat seolah-olah semua pihak telah menyepakati usulanmu.

Kalau disebut tidak kompak

Kembalikan pembicaraan ke pembagian kerja. Kamu bisa mengatakan bahwa kamu ingin membantu tim memenuhi tenggat, sehingga kapasitas dan penanggung jawab perlu jelas. Tidak perlu membuktikan kekompakan dengan menyanggupi semua permintaan.

Apabila masalah berulang, bawa daftar tugas dan perkiraan waktu kepada atasan. Mintalah pembagian yang jelas untuk pekerjaan berikutnya. Satu kali penolakan mungkin belum menyelesaikan kebiasaan yang sudah berlangsung lama.

5. Saat Diajak Bergosip, Keluar dari Percakapan dengan Sopan

Percakapan saat makan siang kadang berubah menjadi komentar tentang rekan yang tidak hadir. Kamu bingung harus menanggapi bagaimana. Ikut mengangguk terasa tidak nyaman, tetapi diam pun membuatmu takut dianggap tidak akrab.

Kamu dapat memakai respons singkat tanpa menghakimi orang yang mengajak bicara. Hindari menambahkan dugaan atau informasi pribadi. Jika percakapan berlanjut, arahkan ke urusan lain atau pamit melanjutkan kegiatan.

“Aku belum tahu kejadiannya secara langsung, jadi belum bisa komentar. Kalau soal pembagian tugasnya, mungkin bisa kita tanyakan bersama ke penanggung jawab.”

Kalau yang dibahas adalah masalah kerja nyata, usulkan pembicaraan dengan orang yang dapat membantu menyelesaikannya. Misalnya, ketidakjelasan serah terima dibahas lewat pengecekan tugas bersama, bukan dengan menebak sifat orang yang bersangkutan.

Mencari dukungan tetap boleh dilakukan. Kamu bisa bercerita kepada orang tepercaya tentang kejadian yang kamu alami dan bantuan yang dibutuhkan. Pilih informasi yang relevan, bukan menyebarkannya ke seluruh kantor.

Kalau kamu yang menjadi bahan pembicaraan

Periksa dulu apa yang benar-benar kamu ketahui. Jangan terburu-buru menyebut seseorang sebagai penyebar hanya berdasarkan kabar dari orang ketiga. Simpan pesan yang relevan bila ada, lalu klarifikasi informasi yang berdampak pada pekerjaanmu.

Contohnya, jika beredar kabar bahwa kamu belum mengirim laporan, jawab dengan tanggal pengiriman dan lokasi dokumennya. Fokus pada koreksi fakta. Kamu tidak perlu membalas dengan membuka kekurangan orang lain.

Jika setelah menolak bergosip suasananya terasa canggung, kamu masih bisa menyapa dan membicarakan hal sehari-hari. Kamu boleh menjaga hubungan baik sambil tetap memilih percakapan yang ingin kamu ikuti.

6. Buat Pekerjaan Terlihat Jelas Saat Kontribusi atau Informasi Terlewat

Dalam rapat lain pada ilustrasi ini, rekap yang Raka susun disampaikan tanpa menjelaskan pembagian kerja. Ia dapat melengkapi konteks pada kesempatan yang relevan, dengan menyebut bagian yang ia kerjakan secara akurat.

“Aku tambahkan prosesnya, ya. Rekap awal aku susun dari data operasional, lalu bagian anggaran diperiksa tim keuangan. Versi terbaru sudah ada di folder bersama untuk ditinjau.”

Kalimat ini menjelaskan kontribusi sekaligus menghargai pekerjaan orang lain. Hindari membesar-besarkan peran sendiri. Kalau ada kesalahan pada bagian yang kamu kerjakan, akui dan jelaskan tindak lanjutnya.

Untuk pekerjaan bersama, sepakati penanggung jawab sejak awal. Pembaruan singkat dapat memuat siapa mengerjakan apa, bagian yang selesai, dan keputusan yang masih ditunggu. Gunakan kanal tim yang memang disepakati.

Tentukan juga penerima pembaruan sesuai kebutuhan pekerjaan. Mengirim setiap persoalan kecil kepada banyak atasan bisa membuat koordinasi semakin rumit. Mulai dari orang yang bertanggung jawab atas tugas atau keputusan tersebut.

Kalau kamu sering tertinggal informasi

Jelaskan kebutuhan kerjanya secara spesifik. Misalnya, kamu membutuhkan perubahan jadwal sebelum menyusun laporan harian. Minta agar pembaruan itu dicatat dalam grup atau dokumen yang dapat diakses pihak terkait.

Jika informasi tetap tidak tersedia, beri tahu penanggung jawab sebelum tenggat terlewat. Sebutkan data yang belum diterima, kapan sudah diminta, dan bagian pekerjaan yang terhambat. Hindari menyimpulkan niat seseorang tanpa dasar.

Simpan jejak kerja sesuai kewenangan dan kebijakan perusahaan. Pakai riwayat dokumen atau pesan yang memang kamu akses secara sah. Tidak perlu membuka akun orang lain atau menyebarkan dokumen internal untuk mencari pembenaran.

7. Pilih Batas Pribadi yang Membantumu Tetap Nyaman Bekerja

Kamu boleh ramah tanpa menceritakan semua hal. Kalau pengalaman sebelumnya menunjukkan cerita pribadi sering dibahas ulang, pilih topik yang membuatmu nyaman. Keakraban di kantor dapat tumbuh perlahan sesuai rasa percaya.

“Terima kasih sudah tanya. Untuk urusan keluarga, aku belum ingin cerita lebih jauh. Kalau soal jadwal kerja besok, ada yang perlu kita koordinasikan?”

Kamu juga boleh memilih tempat istirahat atau teman makan siang yang membuatmu lebih tenang. Tetap berikan informasi kerja yang dibutuhkan dan tanggapi koordinasi sewajarnya. Menjaga jarak pribadi tidak perlu menghambat pekerjaan bersama.

Untuk pesan di luar jam kerja, periksa kesepakatan tim dan tanggung jawabmu. Konfirmasikan cara menangani permintaan rutin, kebutuhan mendesak, serta tugas piket bila ada. Dengan begitu, harapan tentang waktu respons lebih jelas.

Sepulang kerja, coba beri ruang untuk kegiatan yang tidak berpusat pada kejadian kantor. Mengobrol dengan orang tepercaya, makan dengan tenang, atau berjalan sebentar dapat menjadi pilihan yang terasa memungkinkan bagimu.

Jika pikiran tentang pekerjaan terus mengganggu tidur atau aktivitas sehari-hari, pertimbangkan bantuan tenaga kesehatan yang sesuai. Kamu tidak harus menunggu semuanya terasa sangat berat untuk mencari dukungan.

8. Catat Kejadian dan Minta Bantuan yang Spesifik

Ada keadaan ketika kamu sudah menjelaskan keberatan, tetapi perilakunya terus berulang. Ada pula keadaan ketika berbicara langsung terasa tidak aman. Pada titik ini, dukungan pihak lain dapat membantu menangani persoalan.

Rujukan komunikasi dari Acas tentang menghadapi perundungan di tempat kerja mencakup pencatatan kejadian dan mencari dukungan. Pembicaraan langsung dapat dipertimbangkan sesuai kenyamanan; persoalan serius atau yang belum selesai dapat dibawa melalui proses pengaduan.

Apa yang perlu dicatat?

Buat catatan ringkas agar urutannya mudah dijelaskan. Pisahkan hal yang kamu saksikan dari informasi yang disampaikan orang lain. Bila tidak ingat kata-katanya persis, tuliskan sebagai ringkasan, bukan kutipan langsung.

  • Waktu dan konteks: tanggal, perkiraan jam, tempat atau kanal komunikasi, serta pekerjaan yang sedang dibahas ketika kejadian berlangsung.
  • Peristiwa: ucapan atau tindakan yang kamu alami, termasuk pesan relevan dan siapa yang menyaksikan bila ada.
  • Dampak dan respons: bagian pekerjaan yang terganggu, keberatan yang sudah disampaikan, serta perubahan atau pengulangan setelahnya.

Jaga catatan dan bukti pada tempat yang aman sesuai kebijakan yang berlaku. Bagikan kepada pihak yang berkepentingan menangani persoalan. Tidak adanya saksi tidak menghalangimu menyampaikan kejadian yang kamu alami.

Sampaikan bantuan yang kamu butuhkan

Cek jalur yang tersedia, misalnya atasan, HR, perwakilan pekerja, atau kanal pengaduan internal. Jika pihak yang biasanya menerima laporan ikut terlibat, cari jalur alternatif yang ditetapkan perusahaan.

“Saya ingin meminta bantuan terkait komentar tentang kemampuan saya dalam rapat pada [tanggal]. Saya sudah meminta pembahasan fokus ke pekerjaan, tetapi komentar serupa kembali muncul pada [tanggal berikutnya].”

“Saya membutuhkan bantuan agar masukan kerja disampaikan secara spesifik tanpa komentar pribadi. Mohon arahan proses berikutnya dan kapan saya bisa mendapat pembaruan.”

Tanyakan siapa yang menangani laporan, informasi apa yang perlu dibagikan, serta bagaimana kerahasiaan dijaga. Mintalah waktu tindak lanjut yang jelas. Bila belum ada kabar pada waktu yang disepakati, ajukan pertanyaan status secara tertulis.

Untuk ancaman, pelecehan, atau risiko keselamatan, utamakan mencari tempat aman dan bantuan pihak yang berwenang. Kamu tidak perlu mencoba pembicaraan pribadi lebih dahulu jika situasinya berbahaya.

Jika setelah melapor muncul perubahan perlakuan yang merugikan, catat kejadian dan alasan yang disampaikan, lalu bahas melalui jalur yang tersedia. Hasil penanganan dapat berbeda, sehingga dukungan dan tindak lanjut tetap perlu diperhatikan.

9. Mulai dari Satu Langkah yang Paling Mungkin Dilakukan

Kamu tidak harus langsung lancar berkata tegas besok pagi. Pilih satu situasi yang paling sering membuatmu kewalahan. Siapkan satu kalimat, lalu tentukan apa yang akan dilakukan jika respons pertama belum menyelesaikan masalah.

Di HP, geser tabel ke samping untuk melihat semua kolom.

Panduan singkat memilih respons sesuai situasi
Situasi Respons awal Langkah berikutnya
Sindiran saat rapat Minta masukan tentang tugas yang spesifik. Bahas cara penyampaian jika aman; catat jika berulang.
Tugas mendadak Jelaskan kapasitas dan tenggat yang sedang berjalan. Minta keputusan prioritas dan penanggung jawab.
Ajakan bergosip Sampaikan bahwa kamu belum bisa berkomentar. Arahkan masalah kerja ke pembicaraan yang relevan.
Kontribusi terlewat disebut Lengkapi pembagian kerja dengan fakta. Sepakati pencatatan peran dalam tugas berikutnya.
Informasi kerja terlambat Sebutkan data yang dibutuhkan dan tenggatnya. Laporkan hambatan sebelum pekerjaan melewati tenggat.
Perilaku terus berulang Siapkan kronologi dan bantuan yang dibutuhkan. Gunakan jalur pengaduan dan minta tindak lanjut.

Misalnya, target pertamamu adalah berhenti menjawab “iya” sebelum memeriksa pekerjaan sendiri. Cukup latih kalimat, “Aku lihat tenggatku dulu, ya.” Setelah memeriksa kapasitas, berikan jawaban yang benar-benar bisa kamu penuhi.

Setelah beberapa kesempatan, lihat apa yang berubah. Apakah pembagian tugas lebih jelas? Apakah komentar pribadi berkurang? Apakah ada pihak yang membantu? Gunakan kejadian nyata sebagai bahan menilai langkah berikutnya.

Kalau seseorang meminta maaf dan memperbaiki sikapnya, kamu boleh menerima perubahan itu tanpa merasa wajib langsung akrab kembali. Rasa percaya dapat dibangun lewat interaksi berikutnya, sesuai kenyamananmu dan perilaku yang kamu lihat.

Jika tidak membaik, kamu dapat meninjau pilihan seperti penyesuaian kerja, perpindahan tim bila tersedia, atau persiapan mencari pekerjaan lain. Pertimbangkan kebutuhan hidup dan dukungan yang ada; keputusan besar boleh disiapkan bertahap.

10. Pertanyaan yang Sering Muncul

Apakah setiap rekan yang mengkritik termasuk toxic?

Kritik perlu dilihat dari isi, konteks, dan cara penyampaiannya. Koreksi yang spesifik dapat membantu pekerjaan. Kamu tetap dapat membahas komentar pribadi atau cara penyampaian yang merendahkan, sambil memperbaiki kesalahan yang memang terjadi.

Bagaimana kalau aku takut dianggap terlalu sensitif?

Mulai dari kejadian dan permintaan yang jelas. Misalnya, minta masukan disampaikan tentang tugas tanpa ejekan pribadi. Kamu tidak perlu menunggu semua orang setuju bahwa kamu boleh merasa tidak nyaman sebelum meminta komunikasi yang lebih baik.

Apakah cukup didiamkan saja?

Mengakhiri percakapan dapat berguna saat situasi memanas. Namun, persoalan pekerjaan atau perilaku yang berulang tetap memerlukan tindak lanjut. Kamu bisa membahasnya kemudian, menggunakan komunikasi tertulis, atau meminta bantuan sesuai keadaan.

Bagaimana jika orangnya lebih senior?

Gunakan bahasa yang sopan dan fokus pada kebutuhan kerja. Jika ada ketimpangan posisi atau kekhawatiran akan intimidasi, pertimbangkan pendamping dan jalur pelaporan. Kamu tidak harus menghadapi pembicaraan sulit seorang diri.

Bolehkah tetap membantu rekan tersebut?

Boleh, sesuai tanggung jawab dan kapasitasmu. Perjelas bagian yang dibantu, waktu yang tersedia, serta siapa yang menyelesaikan sisanya. Bantuan yang disepakati dengan jelas lebih mudah dikelola daripada janji yang terlalu luas.

Bagaimana kalau HR belum memberi solusi?

Tanyakan status laporan dan langkah berikutnya secara tertulis. Periksa jalur alternatif dalam kebijakan perusahaan dan pertimbangkan dukungan perwakilan pekerja bila tersedia. Catat tindak lanjut; penanganan belum tentu selesai dalam satu pertemuan.

Apakah harus langsung resign?

Keputusan itu bergantung pada kondisi, keselamatan, dukungan, dan kebutuhan hidupmu. Evaluasi pilihan yang tersedia serta siapkan rencana yang memungkinkan. Bila ada bahaya langsung, utamakan keselamatan dan cari bantuan segera.

Kamu Boleh Belajar Tegas Pelan-Pelan

Mungkin besok suaramu masih sedikit bergetar ketika menyampaikan keberatan. Mungkin kamu perlu membaca draf pesan beberapa kali sebelum mengirimnya. Itu tetap sebuah langkah yang layak kamu hargai.

Kamu sudah berusaha menjalankan pekerjaan. Di tengah usaha itu, kebutuhanmu untuk didengar dan diperlakukan dengan hormat juga pantas mendapat tempat. Pilih langkah yang aman, cari dukungan, dan beri dirimu waktu untuk belajar.

Kalau ingin membaca kisah lain tentang keseharian dunia kerja, mampir ke Cerita Kerja PlanetKerja.id. Semoga ada cerita yang menemanimu pulang dengan hati sedikit lebih ringan.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top